IJINKAN AKU MENCINTAI-MU SEBAGAI BAYANGAN SEJATIKU

Cinta dalam bahasa Latin mempunyai istilah amor dan caritas. Dalam istilah Yunani disebut sebagai philia, eros, dan agape. Philia mempunyai konotasi cinta yang terdapat dalam persahabatan. Amor dan eros adalah jenis cinta berdasarkan keinginan. Caritas dan agape merupakan tipe cinta yang lebih tinggi dan tidak mementingkan diri sendiri.
Cinta sebagai sebuah konsep, masuk dalam perbincangan filsafat melalui agama, khususnya ketika asal mula dunia dilukiskan sebagai suatu tindakan penciptaan atau pencipta yang diakui sebagai yang mencintai ciptaan-Nya, baik secara keseluruhan atau sebagian. Akan tetapi konsep cinta juga merupakan sebuah subjek meditasi filosofis yang berkaitan dengan masalah-masalah etis. Cinta, sebagai salah satu dorongan manusia yang paling kuat, awalnya lebih dilihat sebagai kebutuhan akan kontrol, teristimewa ketika manusia sebagai rational animal (makhluk yang berakal) mampu menggunakan kemampuan rasionalnya. Banyak tulisan etika mengenai cinta dimaksudkan untuk menunjukkan sarana dimana kesenangan dan nilai-nilai cinta yang lain dapat tetap dipertahankan tanpa harus terjebak pada perangkap seksualitas yang dianggap jahat. Spekulasi ini berlangsung sejak zaman Plato sanmao Neoplatonis (Khoirul Rosyidi, Op.Cit, hlm. 38-39).
Secara umum cinta diartikan sebagai emosi yang membawa kebahagiaan yang terbesar dan perasaan puas yang sangat dalam. Kalau kita mencintai orang lain, kita senang bergaul dengan mereka. Apa yang terjadi pada mereka penting bagi kita, dan kehidupan mereka terikat pada kita. Kalau kita mencintai orang lain kita memang merasa senang terhadap mereka. Tetapi tidak hanya itu. Perasaan mencintai menciptakan perasaan khusus dalam lubuk hati kita. Kadang-kadang kita dapat memilih orang yang kita cintai seperti suami, istri, atau teman. Tetapi ada yang diberikan kepada kita seperti orang tua dan anak-anak kita. Perasaan cinta dapat dialami secara mendalam dan mempengaruhi hidup kita. Apa yang disebut “jatuh cinta” menggambarkan apa yang dialami seseorang ketika sedang dikuasai emosi yang hebat.
• Abraham H. Maslow menggambarkan cinta sebagai pengalaman yang terdiri dari kelembutan serta kasih sayang dengan penuh kegembiraan, kebahagiaan, kepuasan, kebanggaan bahkan perasaan yang meluap-luap. Ada kecenderungan untuk berdekat-dekatan, mengadakan kontak yang lebih mesra, untuk membelai dan merangkul orang yang dicintai, dan merindukannya. Orang ini kemudian dipandang sebagaimana yang kita hendaki, sebagai orang yang cantik, yang baik, yang menarik hati; kita merasa senang memandang wajahnya, atau berada dekat dengan orang yang dicintai, dan merasa tertekan bila berpisah dengannya. ( Abraham H. Maslow, Op. Cit., Motivasi dan Kepribadian-2, hlm. 42 )
• Erich Fromm mengatakan bahwa cinta adalah seni. Maksudnya yaitu cinta bukanlah keadaan yang seseorang alami, ataupun sekedar fenomena semu yang tidak memiliki arti nyata. Menurutnya cinta membutuhkan pengetahuan, usaha, dan pengalaman. Fromm menyebut konsep cintanya dengan istilah cinta produktif. ( Howard S. Friedman dan Miriam W. Schustack, Kepribadian: Teori Klasik dan Riset Modern, (Jakarta: Erlangga, 2006), hlm. 339).
Menurutnya keproduktifan adalah kemampuan manusia untuk menggunakan kekuatan-kekuatan dan untuk merealisasikan potensialitas yang inheren di dalam dirinya. Jika seseorang menyatakan dia harus menggunakan kekuatan-kekuatannya, maka orang tersebut menyatakan bahwa dia harus bebas, tidak tergantung pada seseorang yang mengontrol kekuatan-kekuatan tersebut. Dia dibimbing oleh akal selama dapat menggunakan kekuatan-kekuatannya. Keproduktifan berarti bahwa manusia mengalami dirinya sebagai pengejawantahan kekuatan dan sebagai aktor, bahwa orang itu merasakan dirinya satu dengan kekuatannya dan pada saat yang sama kekuatan itu tidak disembunyikan atau dialienasikan dari dirinya.
• Cinta di dalam Islam pertama kali dibahas dan diperkenalkan oleh Rabi‟ah Al-Adawiyah (w. 185 M) dengan konsep mahabbahnya atau cinta Ilahi. Menurut Margaret Smith, untuk mendefinisikan cinta dalam pandangan Rabi‟ah agak sulit. Dengan kata lain, Cinta Ilahi bukanlah hal yang dapat dielaborasi secara pasti, baik melalui kata-kata maupun simbol-simbol. Para sufi sendiri berbeda-beda pendapat untuk mendefinisikan Cinta Ilahi ini. Sebab, pendefinisian Cinta Ilahi lebih didasarkan kepada perbedaan pengalaman spiritual yang dialami oleh para sufi dalam menempuh perjalanan ruhaniahnya kepada Allah. Cinta Rabi‟ah adalah cinta spiritual (Cinta qudus), bukan Cinta al-hubb al-hawa (cinta nafsu) atau cinta yang lain.
• Menurut Imam Ghazali, cinta adalah buah pengetahuan. Pengetahuan kepada Allah akan melahirkan cinta kepada-Nya. Sebab, cinta tidak akan ada tanpa pengetahuan serta pemahaman , karena seorang tidak mungkin jatuh cinta kecuali pada sesuatu yang telah dikenalnya. Dan tidak ada sesuatu yang layak dicintai selain Allah.
• Suhrowardi memandang cinta sebagai pijakan bagi segenap kemuliaan hal, sama seperti taubat adalah dasar bagi kemuliaan maqam. Karena cinta pada dasarnya adalah anugerah yang menjadi dasar pijakan bagi segenap hal, kaum sufi menyebutnya sebagai anugerah-anugerah (mawahib). Lebih lanjut ia menyebut cinta adalah kecenderungan hati untuk memperhatikan keindahan atau kecantikan.
• Menurut teoritikus sufi besar, Ibnu Arabi (w. 1240 H) rahmat Allah yang menyebabkan terciptanya alam semesta adalah eksistensi itu sendiri. Perbuatan menciptakan segala sesuatu itu sendiri adalah tindakan yang disandarkan pada kelembutan dan kebaikan. Hal serupa juga terjadi berkenan dengan cinta dalam sebuah kalimta hikmah yang sering dikutip dalam teks-teks sufi:
“Aku adalah khasanah tersembunyi”,
demikian Allah berfirman, “Lalu aku ingin dikenang. Karena itu, kuciptakan agar aku dikenal”. Rahmat dan cinta Allah-lah yang menyebabkan terciptanya alam, tetapi ada perbedaan penting antara sifat itu. Rahmat mengalir dalam satu arah, dari Allah menuju dunia, sementara cinta bergerak dalam dua arah sekaligus. Manusia bisa mencintai Allah, tetapi memberi rahmat kepada-Nya hanya kepada makhluk-makhluk lainnya. Ketika kaum sufi mengatakan, bahwa Cinta Allah menyebabkan keberadaan alam semesta, mereka segera menambahkan bahwa hubungan cinta manusia dengan Allah telah menutup celah antara Allah dan makhluk ciptaan-Nya. Cinta manusia itu sendiri itu dikenal melalui kesalehan ibadah kepada Allah Yang Maha Esa. Semakin besar cinta itu, semakin besar pula partisipasinya dalam citra Allah, dan semakin besar kesempurnaan manusia. Karena itu, “Cinta” sering dipandang sebagai sinonim kata ihsan.
• Menurut Jalaluddin Rumi (w. 672 H/ 1273 M), kalimat “Yuhibbuhum” (Allah mencintai mereka) merupakan cinta yang sempurna. Sedangkan kalimat “Yuhibbunahu” (mereka akan menyintai Allah), mengandung unsur cinta yang masih dipertanyakan, yakni, siapakah orang-orang yang benar-benar memiliki cinta seperti tersebut. Dalam hati para pencinta terdapat penyakit yang tidak dapat disembuhkan oleh obat apa pun, tidak dengan tidur, bertamasya ataupun makan. Tidak ada yang dapat menyembuhkannya selain melihat kekasih. Karena “bertemu dengan sang kekasih adalah obat bagi orang yang sakit.” Jika seperti itu kejadiannya, maka lepaskanlah kadar akal dan pikiran yang lazim agar dapat menampakkan surga cinta yang ada.
Cinta dapat memaniskan yang pahit dan cinta pun dapat memahitkan yang manis, semua tergantung pada para penikmat cinta. Namun ketahuilah bahwa cinta adalah sebuah sarana terbaik dalam mencapai mahabbah kepada sang pemilik cinta yang sesungguhnya.
“Cinta membuat yang pahit menjadi manis,
Cinta mengubah tembaga menjadi emas,
Cinta mengubah sampah menjadi anggur
Cinta mengalihkan derita ke dalam penyembuhan
Cinta menghidupkan yang mati
Cinta mengubah raja menjadi hamba sahaya
Cinta mendidihkan samudra laksana buih,
Cinta meluluhlantakkan gunung menjadi pasir
Cinta menghancurkan langit beratus keping
Cinta mengguncang bumi. ( Jalaluddin Rumi )
Kekuatan cinta ini pula yang mengantarkan seorang pecinta melabuhkan kepasrahan utuh secara menakjubkan kepada Tuhan, sang Kekasih Abadi, Jika ia membuatku sebuah cawan, aku jadi cawan, Jika ia membuatku sebilah belati, aku jadi sebilah belati, Jika ia membuatku mata air, maka aku kan memberi air, Jika ia membuatku api, maka aku kan memberi panas,Jika ia membuatku hujan, aku kan menghasilkan panen, Jika ia membuatku sebilah jarum, aku kan menembus tubuh, Jika ia membuatku seekor ular, aku kan menghasilkan racun, Jika ia membuatku sahabatnya, aku kan layani dia saja.
Seperti yang penulis sebutkan di atas bahwa tujuan cinta dalam pandangan Rumi adalah Tuhan, sedangkan untuk mencapainya dibutuhkan perantara. Tuhan adalah satu-satunya keindahan sejati dan semua bentuk keindahan lain di alam semesta merupakan pantulan secercah keindahan-Nya, maka ketika banyak manusia melabuhkan cinta mereka kepada berbagai bentuk keindahan lain, sesungguhnya mereka mencintai Tuhan. Di dalam Fihi Ma Fihi Rumi menyingkap rahasia cinta tersebut dengan anggun :
Semua harapan, hasrat, cinta, dan kasih sayang yang dimiliki manusia terhadap segala sesuatu; ayah, ibu, sahabat, langit, bumi, taman-taman indah, istana megah, ilmu, perbuatan, makanan, minuman. Semua ini merupakan hasrat bagi Allah, dan menjadi tabir. Ketika manusia meninggalkan dunia ini dan bertemu dengan Raja Abadi tanpa tabir, maka mereka akan mengetahui bahwa semua itu merupakan tabir dan selubung dan bahwa objek hasrat mereka pada hakikatnya adalah pada Yang Esa. Semua kesulitan mereka akan terpecahkan, semua pertanyaan dan kebingungan yang ada di dalam hati mereka akan terjawab, dan mereka akan melihat segala sesuatu secara langsung.
Bagi Rumi, kesalahan yang terjadi pada manusia duniawi bukanlah masalah kecintaannya pada dunia ini, melainkan ketidakmampuannya untuk merasakan bahwa segala sesuatu di dunia ini tidak lain sebagai bayangan Kekasih Sejati. Tuhan adalah Kekasih Sejati. Bagi Rumi, alam fisik ini adalah Tuhan dalam penyamaran. Ia adalah fenomena memberi isyarat pada realitas yang lebih dalam. Dunia yang lahir adalah fenomena, yang menyimpan di dalamnya ”noumena”, realitas yang sejati.
Dengan demikian dunia lahir adalah petunjuk bagi adanya yang batin. Bagi Rumi, tidak mungkin ada yang lahir tanpa ada yang batin. Jadi sekalipun yang lahir, sepintas lalu berbeda dengan yang batin. Tetapi yang lahir merupakan jalan menuju realitas yang tersembunyi di dalamnya. Dengan demikian, Tuhan sebagai yang batin, adalah realitas yang lebih mendasar, sekalipun untuk dapat memahaminya kita memerlukan mata lain yang lebih peka. Tidak semua orang dapat melihat kecantikan Tuhan yang tersembunyi di balik fenomena alam. Kebanyakan kita adalah pemerhati fenomena, dan karena itu tidak bisa melihat keindahan batin yang tersembunyi di balik fenomena lahiriah alam.
Rabi’ah al-Adawiyah mengatakan bahwa “aku mencintai-Nya dengan dua macam cinta. Cinta kepada diriku dan cinta kepada-Mu. Adapun cinta kepada-Mu adalah keadaan-Mu yang menyingkapkan tabir, hingga Engkau kulihat, baik untuk ini maupun untuk itu”.

Setelah cinta diekspresikan dengan aneka ragam metafora, dapatkah hakikat makna cinta dapat difahami? Ternyata tidak. Setiap pembicaraan tentang cinta bukanlah cinta itu sendiri; Sebab cinta merupakan ranah pengalaman jiwa manusia yang amat sublim yang tidak bisa diuraikan dalam kata-kata. Bahasa manusia terlalu miskin untuk mewakili pengalaman indah cinta. Dari pemaparan di atas, cinta secara definitif atau terminologi sulit didefinisikan karena cinta berhubungan dengan emosi yang tidak nampak secara lahir. Cinta hanya dapat dijelaskan dengan kaitan-kaitannya dengan hal selainnya seperti Tuhan, manusia, dan alam semesta. Gambaran lain tentang cinta yaitu akibat-akibat yang ditimbulkannya dan pengaruh-pengaruhnya bagi seseorang dalam melakukan sesuatu hal yang tadinya berat menjadi ringan. Intinya cinta adalah emosi yang mendalam terhadap suatu hal yang menjadikan seseorang yang sedang dilanda cinta menjadi berbungah-bungah dan bahagia ketika berkaitan dengan yang dicinta. Pada hakikatnya cinta adalah suci, dalam arti cinta itu tidak bertentangan dengan nurani, akal, dan norma yang dianut seseorang. Ketika dengan alasan mencinta salah satunya dilanggar maka cinta tersebut patut dipertanyakan.
” Terkadang cinta membunuh ku dalam pelarian, bahkan cinta pun menusuk ku kedalam lubang penghianatan.
Aku tahu Perih yang ku hidangkan seakan meludahi kuasa-MU.
Bahkan Kesombongan ku telah melumpuhkan gerakan-MU.
Aku tahu Acuh ku telah menghilangkan jejak keberadaan-MU.
Lalu, lantas kah aku berada dalam pelukan Rahman serta Rahim-MU..?
Ya Rabb… Ijinkan aku mencintai-MU sebagai bayangan sejatiku “. ( Al-magi )

Pos blog pertama

Ini adalah pos pertama Anda. Klik tautan Sunting untuk mengubah atau menghapusnya, atau mulai pos baru. Jika ingin, Anda dapat menggunakan pos ini untuk menjelaskan kepada pembaca mengenai alasan Anda memulai blog ini dan rencana Anda dengan blog ini. Jika Anda membutuhkan bantuan, bertanyalah kepada orang-orang yang ramah di forum dukungan.